Blockchain untuk rakyat

Mumpung sedang ramai Bitcoin dan teman-temannya (Altcoin), saya akan membahas teknologi dibalik mata uang kripto tersebut. Tulisan ini tidak membahas dari segi teknis, jika kamu sedikit alergi dengan hal-hal teknis, jangan khawatir kamu bisa terus membaca.

 

 

Berapa aset mata uang kripto yang kamu punya, sudah merasakan kaya mendadak, atau malah sebaliknya ?. Dibalik gairah orang-orang yang keranjingan trading dan berinvestasi di mata uang kripto, sebenarnya ada potensi lain yang lebih besar dari itu yaitu blockchain.

 

Blockchain adalah mekanisme penyimpanan transaksi, seperti buku besar (ledger). Jika kamu melakukan transfer uang di bank, maka transaksi akan tercatat di dalam buku besar bank tersebut. Begitu juga ketika kamu membeli pulsa, jumlah pulsa kalian akan tercatat di buku besar operator telko.

 

Berbeda dengan bank dan operator telko yang pencatatannya tersentralisasi, blockchain melakukan pencatatan secara terdistribusi. Dengan blockchain maka pencatatan transaksi tidak dikuasai oleh satu entitas. Bagaimana itu bisa terjadi? itulah hebatnya blockchain!.

 

Agar lebih mudah memahami tentang blockchain, saya akan bercerita tentang pasar di jln. Oaoe. Kurang lengkap rasanya membahas tentang sistem pertukaran nilai tanpa membahas tentang pasar tempat kita beli sayur, lopis, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari.

 

Sejarah Pasar Oaoe

Alkisah, sekelompok anak muda kekinian sedang melewati jln Oaoe yang asri, damai, dan sejuk. Tiba-tiba seseorang yang paling gaul dan asik diantaranya menyeletuk “Kalau jalan ini dijadikan semacam tempat jualan, pasti ASIK!”, teman-temannya tentu saja mengamini ide yang asik tersebut.

Selanjutnya para sekelompok pemuda tersebut menjadi tim pengembang. Mereka mulai menyiapkan masterplan, rapat setiap malam, dan minum bercangkir-cangkir kopi. Hasilnya adalah sebuah whitepaper yang berisi aturan-aturan (protokol) yang diperlukan agar jalan tersebut bisa menjadi sebuah tempat yang asik buat jualan.

Beberapa aturan yang cukup asik adalah:

1. Jual beli didalam pasar akan menggunakan koin khusus, yang disebut koin Oaoe. Koin Oaoe bisa ditukarkan dengan rupiah dengan nilai tukar tertentu.

2. Transaksi dicatat di dalam buku besar yang dipegang oleh bendahara. Buku besar bisa berjumlah lebih dari satu, bendahara juga bisa lebih dari satu.

3. Bendahara dan tim pengembang dibayar dengan koin Oaoe.

4. Siapapun boleh bergabung menjadi tim pengembang atau bendahara.

Tim pengembang ingin agar sistem Pasar Oaoe ini benar-benar dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Tidak hanya demokratis namun juga meristokrasi, sistem akan memberikan koin Oaoe kepada siapapun yang ikut berkontribusi terhadap sistem ini.

Pertanyaannya adalah, apabila bendahara bisa lebih dari satu dan masing-masing memiliki buku besar sendiri, bagaimana menentukan kebenaran dan keabsahan buku besar tersebut, jangan-jangan buku besar menjadi tidak konsisten dan berbeda-beda isinya. Hal ini bisa memicu konflik dan menyebabkan darah berceceran di jalan.

Karena itu tim pengembang membuat konsensus untuk menentukan siapa yang berhak mencatatkan transaksi-transaksi terbaru kedalam buku besar, yang kemudian akan disalin ke buku besar milik bendahara yang lain, sehingga buku besar akan tetap konsisten satu sama lain.

Setelah menimbang dengan seksama, konsensus yang digunakan adalah Proof of Hompimpah (PoH), para bendahara akan melakukan hompimpah, dan menyerahkan hasilnya pada takdir. Pemenang hompimpah berhak memasukkan data transaksi terbaru di buku besar-nya, yang kemudian akan disalin ke semua buku besar bendahara yang lain.

Konsensus tersebut berjalan sangat baik, Pasar Oaoe menjadi sangat ramai dan menguntungkan. Banyak pengunjung yang berduyun-duyun, untuk membeli sesuatu atau sekedar jalan-jalan dan zang-zangan.

Bahkan konon ada sultan Arab dan jenderal Tiongkok yang juga mendaftar menjadi bendahara di pasar Oaoe, lengkap sudah ini pasar go internasional melewati batas-batas wilayah dan akal sehat.

Singkat cerita, para pedagang, pembeli, pengembang, dan orang-orang sejahtera bahagia, sampai akhirnya… satpol PP datang.

TAMAT

 

Cerita fiktif diatas semoga bisa menganalogikan blockchain secara sederhana.

 

Seperti Pasar Oaoe, blockchain dirancang oleh tim pengembang, mereka membuat spesifikasinya, merancang aturan-aturan, yang kemudian membuat implementasinya.

Setelah itu tim pengembang harus menarik minat para partisipan agar bisa ikut berkontribusi ke jaringan blockchain, partisipan akan menyediakan hal-hal yang dibutuhkan oleh blockchain agar bekerja dengan baik.

 

Hal apa yang dibutuhkan oleh blockchain? setiap blockchain bisa berbeda-beda, bisa keamanan, komputasi, bandwidth, listrik, konten, media penyimpanan dan lain-lain.

 

Jika kamu pernah mendengar tentang miner di ekosistem Bitcoin, mereka adalah partisipan yang menyediakan mesin komputasi, listrik, dan lain-lain untuk menyimpan transaksi dan melakukan konsensus seperti bendahara di Pasar Oaoe.

 

Konsensus
Ada berbagai macam konsensus yang digunakan dalam blockchain, ada proof of work, proof of stake, dan lain-lain. Bitcoin menggunakan Proof of Work, sedangkan DASH, NEO menggunakan Proof of Stake. Penjelasan detailnya bisa dicari di internet, atau mungkin lain waktu saya tuliskan.

 

Jika dilihat dari cerita diatas ada beberapa karakteristik dari blockchain,

 

Secara politis tidak terpusat
Sangat sulit menjadi penguasa dominan di ekosistem blockchain karena sifatnya yang terbuka. Bahkan tim pengembang, jika para partisipan merasa perkembangan jaringan blockchain tersebut tidak menguntungkan, mereka bisa meninggalkannya. Bahkan membuat jaringan blockchain sendiri, seperti munculnya Litecoin, Bitcoin Cash yang berasal dari Bitcoin.

 

Secara arsitektur tidak terpusat
Para partisipan bisa berada di belahan dunia manapun yang terhubung dengan internet. Seperti para miner di Bitcoin, mesin komputasi mereka bisa di mana saja. Karena sifatnya yang terdistribusi dan peer to peer sehingga sulit untuk menutup jaringan blockchain.

 

Secara logis terpusat
Para pengguna akan melihat jaringan blockchain sebagai satu kesatuan, seperti para pengunjung dan pedagang melihat Pasar Oaoe seperti pasar-pasar tradisional lainnya.

 

Begitulah,

 

Apa yang dilakukan blockchain terhadap perpindahan aset, mirip seperti apa yang dilakukan internet terhadap perpindahan informasi.

 

Internet membuat informasi bergerak cepat, mengurangi friksi, mengarungi batas-batas wilayah, membuka kesempatan-kesempatan baru, dan membuat tercengang pihak-pihak yang lalai.

 

Sudah sayang sama teknologi blockchain belum? gpp, tetep buka hati, pelan-pelan saja. Bahkan seorang kekasih, dulunya seseorang yang asing, yakan.

 

Traktir saya ngopi : paypal.me/Rifqi/1

16 thoughts on “Blockchain untuk rakyat”

Leave a Reply