Obrolan Warung Kopi, Ngimpiiii….

Selamat pagi…, matahari belum terbit, mata masih kriyip kriyip dan hujan turun dengan lebat..

Hawanya terasa dingin disertai suasana gelap remang remang yang tentu saja enaak. Enak untuk tidur lagi sambil kelonan.. kelonan bantal sambil selimutan sarung.

Akan tetapi mau tidak mau saya harus mulai berangkat kerja, dipaksa oleh tabungan yang menipis dan harapan masa depan yang cerah, saya harus melakukan sesuatu.

Dengan malas, saya memacu motor di tengah hujan. Saya tidak sendiri, beberapa orang ternyata juga senasib harus mulai bekerja sepagi ini.

Waduh, di tengah perjalanan ternyata malah ban bocor *urip. Ya sudah, mlipir saja sambil menuntun motor ke warung kopi langganan yang lumayan dekat. Disampingnya ada tukang tambal ban, walaupun sepertinya masih belum buka.

Terjebak di warung kopi dan menunggu hujan reda. Sambil sesekali melihat kanan kiri, berharap ada kenalan yang juga bernasib sama yaitu “Terjebak” hahaha…

Nah, nampaknya benar nih, ada wajah familier yg lagi menyeruput kopi di salah satu meja. Teman SMP ku, horeee..

Lama tidak berbincang dengan temanku yang satu ini, pasti banyak yang bisa diceritakan.

“Haloo buoss, piye kabare?. Kenapa senyum senyum sendiri begitu? lagi stress ya..” kataku.

“Haloooo, Nggak bero, aku ini lagi membayangkan kalau dapat duit satu milyar..” katanya dengan sedikit tertawa.

“Begini, aku lagi deket sama cewek anak pengusaha, siapa tahu dimodali usaha semilyar gitu sama bapaknya..” lanjutnya sambil menyeruput kopi.

“Hahaha, anak tunggal dan bapaknya sudah tua juga bro, bentar lagi dapat warisan dong” kataku. Itu bercandaan yang sudah umum, namun nampaknya harapan banyak orang.

“Sayangnya enggak si.. hehehe..” jawabnya

“Yo wes ndang dirabi ae bero.., nunggu opo..” kataku

“yo sik toh.., lagi pedekate kie..” katanya

“Oalah bro.., lagi pedekate toh. Karang jaman sekarang yang ngaku nabi aj banyak, apalagi cuma ngaku pacar.” kataku.

Dia tidak menanggapi dan tidak peduli, lagi sibuk melanjutkan lamunannya.

Satu hal yang kukagumi dari temanku yang satu ini, dia selalu semangat sekali bahkan jika hidupnya hanya dipenuhi kata “hampir”, hampir kaya, hampir rabi, hampir jadian dan lain lain..

Mungkin hanya hampir mati yang belum… Selain itu dia juga sangat bersemangat untuk menceritakannya bahkan cenderung congkak.

Tapi congkaknya tidaklah mengapa, paling tidak dia tidak suka membual, dia hanya sedang menertawakan diri sendiri diantara keterbatasan diri dan nasib-nya… sebuah terapi yang jarang dilakukan orang sekarang ini.

“Kalau kau gimana bro, andai dapat uang 1 milyar gitu. Mau diapakan?” katanya tiba tiba.

Hmmmm, buat apa ya. pikirku

Pastinya kepengen beli rumah, mobil, naik haji, dan lainnya seperti keinginan orang kebanyakan. Ah, tapi itu terlalu mainstream. Kalau menurut jiwa sederhanaku yang sedikit terpaksa ini harusnya berbeda 🙁

“Aku pengen membangun rumah sakit bero” kataku lirih, tanda kurang ikhlas.

“Wahhh, keren itu, rumah sakit apa bro, emang cukup duit segitu?” katanya, malah terlihat antusias.

“Hahaha, ya rumah sakit aj bro, saya tahu rasanya kalau ga punya dana yang cukup utk berobat ke rumah sakit. Walaupun masih ada jamkesda atau BPJS, tapi prosedurnya kadang dipersulit, dan dioper sana sini. Tapi ya harus maklum si, memang begitu keadaanya sekarang”

“Kau tahu rasanya orang yg kita sayangi kesakitan, tapi kita tidak bisa melakukan sesuatu selain berdoa. Sakit broo.. “ Kataku..

“Husshhh, jangan pernah meremehkan doa bro..” sergahnya.

“Iya si, kalau duit semilyar cukup atau nggak saya tidak tahu. Belum pernah pegang dan ngitung segitu juga”

“Eh, tapi nanti kalau ada dokter atau perawat yang cocok dan mau, bisa dijadiin istri juga hahahahaha…” kataku semangat.

“Jiahhh, Ngomongnya jangan ketinggian bro, nanti mulutmu ketabrak pesawat lo..” Balas temanku.

Taeeekkk, takon malah akhire maido..

“ya sudah bro, sepertinya tukang tambal ban-nya sudah buka. Saya harus segera melanjutkan makaryo kie” kataku dengan malas, sambil menuju parkiran.

“Okok bro, jangan lupa harapan yang kau ceritakan tadi ya, hehe.. “ katanya setengah berteriak.

Saya tidak menjawab, sambil kutuntun motor ke bengkel sebelah.

Hmmm, entah kenapa saya jadi semangat lagi.. bahkan sampai lupa memesan minuman favorit – Kopi Jahe!.

Leave a Reply