Obrolan Warung Kopi, Tentang Kebodohan yang Nyata

Hari libur, ditemani hujan yang deras dan berbincang dengan teman lama di warung kopi. Kami memesan kopi jahe seperti biasa dan cemilan kacang.

Kemudian dia mulai bercerita sesuatu yang hal, yg sepertinya menarik..

Temanku bercerita tentang rekannya yang sebenarnya cerdas namun sayang tidak untuk kali ini.

Dia berbicara tentang rekannya yang mengambil asumsi yang prematur, dan dengan asumsinya itu dia mengatakan banyak hal ke teman temannya, berimajinasi tentang masa depan dan mungkin tentang negeri di awan.

“Padahal kau tahu Rif, asumsi yang prematur itu membunuh, dan segala tindakan diatasnya adalah cacat” , dia berkata sambil menyeruput kopi.

Yaaahh… -kecewa-, sebenarnya saya kurang peduli dengan cerita beginian, sifat kekanakan seseorang karena terlalu banyak ngasih makan egonya.

Tapi saya tetap mencoba menyimak cerita teman saya itu… sambil menyeruput kopi jahe yg – ternyata masih panas T_T.

“Perkataannya walaupun terdapat kebenaran, namun itu hanya sedikit. Kenyataan yang akan membuatnya menutupinya dengan banyak kebohongan”.

“Mungkin bukan hanya kenyataan, ego dan kesombongannya pun akan terus menyuruhnya berdusta, dan juga terus merendahkan orang lain”, Katanya lagi sambil menerawang.

Haishh… kenapa pake menerawang segala, sepertinya efek kafein, jahe dan hujan menjadi kombinasi yg syuper. – kataku dalam hati.

“Pernahkan kau merasa iri atau dengki Rif ?”, tiba tiba dia bertanya macam detektif.

“errr, ya pernah si..” kataku agak kaget.

“Jangan Rif, dengki itu ibarat menenggak racun ke mulut sendiri dan berharap orang lain yang mati. Pikiranmu akan tertutup kabut!!” dia berkata dan mukanya cukup serius.

Ya, pernah dengar kalimat itu si, sepertinya dari para ulama.

Pembicaraan ini mulai membosankan ya, – kataku dalam hati.

“Ok bro, nampaknya hujan sudah mulai reda, dan kopinya sudah selesai kunikmati” kataku.

“Saatnya saya lanjut bekerja mengurusi masa depan. Btw, katakan pada temanmu itu selamat mengurusi masa lalunya”.

“Sampai ketemu lagi bro, terima kasih atas ceritanya” kataku sambil dadah dadah.

Dan sepertinya temanku itu masih menikmati kopi sambil sesekali menerawang.

Kenapa harus menerawang segala sih -__-“.

Leave a Reply